FKIP UIA Gelar Expo Educare 2025 di Salatiga

FKIP UIA Gelar Expo Educare 2025 di Salatiga

SALATIGA, BEKASINESIA.COM–Rombongan mahasiswa FKIP UIA yang menumpang bus pariwisata sampai di Panti Lansia, “Rumah Teduh Damai-Senior Living” jam 08.00 wib, Kamis 23/10. Panti yang terletak di pinggir jalan utama Kopeng, perbatasan Salatiga-Kabupaten Semarang itu berada di perbukitan yang berhawa dingin.

Saat rombongan tiba, para lansia sedang berjemur di halaman yang luas dan bersih. Cuaca pagi itu sangat cerah. Sinar matahari mulai menghangatkan halaman yang berlantai batako. Seluruh lansia berjemur pakai kursi roda.

Pimpinan yang juga pendiri panti Ibu Ita menyambut rombongan dengan ramah. Dia mempersilakan mahasiswa untuk langsung berinteraksi dengan para lansia yang sedang berjemur, yang jumlah 20 orang. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, ada juga dari Bekasi dan Jakarta.

Karena pada jam itu para lansia sudah harus sarapan, Ibu Ita mempersilakan mahasiswa untuk ikut menyuapin para lansia. Sejumlah mahasiswa FKIP UIA pun dengan senang hati menyuapin para lansia itu, seolah-olah sedang menyuapin orang tua sendiri.

Para lansia kelihatan gembira disuapin oleh mahasiswa tersebut. Meraka pun senang diajak ngobrol. Salah seorang lansia Pak Mugiyono, asal Jogyakarta, yang -menurutnya baru berumur 87 tahun- paling banyak bicara. Selera humornya pun tinggi. Fisiknya kelihatan paling kuat dibanding lansia lain. Dia menceritakan pengalaman tinggalnya di panti, yang sudah lebih dari tiga bulan. Dia juga menceritakan tujuan hidup di sisa usianya.

”Tujuan hidup saya ingin berbuat baik kepada semua orang. Tidak membedakan asal-usulnya. Pokoknya di sini saya nyaman. Teman-teman juga merasa sangat senang,” ujarnya penuh semangat.

Penghuni lain, Ibu Sriwahyuni, sepertinya penghuni yang paling muda. Kalau dilihat dari fisik, umurnya sekitar 40 tahun. Masih sega, cantik dan lincah. Saat rombongan datang dia aktif menghampiri peserta, dan langsung bercerita. Tutur katanya masih jelas dan sistematis di saat-saat awal bicara. Tetapi setelah beberapa lama, omongannya mulai ‘ngaco’ dan tidak runtut.

Menurut Pimpinan Panti, Ibu Sriwahyuni (Heni) sudah berumur 60 tahun. Sebelumnya dia normal. Suatu Ketika (sekitar di umur 40 tahun) kepalanya ketimpa beban berat. Dia geger otak. Keluarga sudah mengobati ke mana-mana tetapi tidak bisa sembuh.

Karena omongannya yang ngaco itu, di rumah dia sering dibuli oleh keluarganya yang lain dan juga oleh tetangga. Makanya keluarga pun memutuskan untuk menitipkannya di panti.

Karaoke dan Melukis

Usai sarapan, seluruh lansia dan rombongan diajak oleh Pimpinan Panti ke aula untuk melakukan seremonial penyambutan dan perkenalan, serta hiburan. Aulanya cukup rapi dan bersih. Bisa menampung sekitar 100 orang.

Ketua Panitia FKIP UIA EXPO EDUCARE 2025, Maisa Aulia (Mbak Lia-prodi BK smester 7) menyampaikan maksud dan tujuan rombongan mengunjugi panti. Inti sambutannya adalah sebagai bentuk kepedulian mahasiswa kepada para lansia.

”Kunjungan ini ada bagian dari tugas kampus yakni pengabdian masyarakat. Kami memilih mengunjungi panti lansia agar kami bisa menyelami kehidupan para lansia, karena nantinya kami juga akan tua. Selain itu kami juga ingin menghibur,” tutur Mbak Lia.

Usai sambutan Pimpinan rombonmgan, dilanjutkan dengan sambutan Pendamping Sabar Lesmana, sambutan dari Pimpinan panti Ibu Ita, hiburan karaoke dan diakhiri dengan penyerahan sumbangan secara simbolis oleh mahasiswa kepada pimpinan panti.

Suasana seremonial sambutan sangat kondusif dan ceria. Sabar Lesmana mengajak para lansia interaktif, dialog langsung dan bercerita sesukanya. Banyak lansia yang tunjuk tangan ingin berbicara, menceritakan pengalaman dantujuan hidupnya. Ada juga lansia yang minta lagu-lagu nostalgia, seperti Bengawan Solo dan lain sebagainya.

Suasana di ruang pertemuan itu benar-benar ceria, meski kemudian -maaf- ada juga lansia yang pipis dan diantar ke kamar mandi oleh pengurus.

Usai acara seremonial dan hiburan seluruh lansia dibawa ke ruang lain untuk melukis. Panita membagi mereka ke dalam 5 kelompok meja besar. Mahasiswa memandu mereka yang ingin melukis apa saja di kanvas yang sudah disiapkan.

Lukisan mereka cukup bagus dengan imajinasi yang beragam. Meski jari-jemarinya dipandu oleh mahasiswa namun sapuan kuasnya memperlihatkan semangat dan gairah hidup.

Hari itu, mereka benar-benar bahagia dan merasa diperhatikan. Setidaknya mahasiswa FKIP UIA telah memberi nuansa berbeda dalam kehidupan mereka, di tengah rutinitas yang tidak bisa lagi diubah.

 

MoU dengan UIN Salatiga

Hari kedua, Jumat 24/10 rombongan FKIP UIA mengunjungi Universitas Islam Negeri Salatiga. Rombongan tiba di Kampus III, yang berlokasi di Jalan Lingkar Selatan, KM 2 Pulutan Kecamatan Sidorejo, Salatiga, jam 08.00 wib. Disambut langsung oleh Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (PTIK) Dr. Muslikhah M.Pd. dan sejumlah unsur pimpinan lain, diantaranya Wakil Dekan I DR. Faturrhman M.Pd., Kaprodi Bahasa Inggris Rr. Dewi Wahyu Mustikasari S.S, M.Pd., Ph.D, dan Kaprodi BKPI Dr. Wahidin M.Pd.

Agenda pertama adalah seremonial perkenalan dari kedua belah pihak, kemudian penanda tangan MoU antar Fakultas, yakni antara FKIP UIA dengan FTIK UIN Salatiga, dan MoU antar prodi, yakni prodi PBI dan BK FKIP UIA dengan prodi BKPI dan TBI FTIK UIN Salatiga, dilanjutkan penyerahan plakat/tanda mata dan diakhiri dengan kuliah umum.

MoU dilaksanakan dalam rangka memperkuat tridharma perguruan tinggi. Beberapa cakupan dalam naskah kerjasama ini, diantaranya, bidang pengajaran. Yaitu pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan, pengembangan kurikulum, visiting lecture dan kegiatan akademik lainnya.

Yang kedua bidang pendidikan dan publikasi melalui joint research, publikasi hasil riset yang akan diterbitkan di jurnal ilmiah yang ada di kedua kampus dan penulisan buku bersama.

Dan yang ketiga adalah bidang Pengabdian Masyarakat, baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa.

Dalam sambutannya, Wadek I UIN Salatiga DR Faturrahman M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kerjasama yang digagas tersebut. Menurutnya FTIK UIN Salatiga telah melakukan sejumlah kerjasama, baik dengan kampus di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan kerjasama semacam itu akan terus dilanjutkan dengan kampus-kampus lain.

Dijelaskan juga bahwa UIN Salatiga semula adalah IAIN, dan tahun 2022 baru menjadi UIN. Memiliki tiga lokasi kampus, yakni kampus I di Jl. Tentara Pelajar, samping alun-alun kota Salatiga, fokus untuk Pasca Sarjana. Kampus II terletak di Kembang Arum. Dan kapus tiga di Jl. Lingkar Selatan. Nantinya seluruh aktivitas kampus akan dipusatkan di kampus III.

”Jadi sebagai kampus kami tergolong masih muda, namun riwayat berdirinya UIN Salatiga ini memilki sejarah cukup panjang, awalnya adalah IAIN yang mendapatkan status negeri tahun 1970,” urainya.

Sementara Wadek FKIP UIA Dr. Sabar Lesmana., menjelaskan UIA merupakan kampus yang didirikan ulama kharismatis KH Abdullah Syafi’i, memiliki moto: Memadukan Ilmu dan agama. Berlokasi di Jatiwaringin – Pondogede, Jakarta. Memiliki dua kampus yang berseberangan jalan. FKIP UIA sendiri, saat ini memiliki 3 prodi, yakni MTP, PBI dan BK.

Kerjsama dengan UIN Salatiga, khusus FTIK merupakan, suatu kebanggaan yang akan memperkuat sinergi dan memperluas jaringan. Sebelumnya, lanjut Sabar, pihaknya juga sudah melakukan kerjsama serupa dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).

”Kalau dengan UNNES dan UPGRIS kerjasama fokus antara dosen dalam memperkuat kurikulum. Sementara di sini antar mahasiswa. Ini suatu sinergi yang luar biasa dan sangat bermanfaaat untuk meningkatkan kualitas pendidkan,” ujarnya.

Usai seremonial penyambutan acara kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh dua nara sumber. Nara sumber pertama dari UIN Salatiga Rr. Dewi Wahyu Mustikasari Ph.D, dengan tema: Artficial Intelligence, Akademic Integrity, Wellbeing: How do The Work Together? (Kecerdasan Buatan, Integritas Akademik, Kesejahteraan: Bagaimana Keduanya Bekerja Sama?).

Sementara narasumber kedua DR. Sabar Lesmana, membawakan tema: Pengaruh Emosi Terhadap Kegiatan Belajar Daring Peserta Didik.

Setelah kuliah umum,mahasiswa FKIP UIA Jakarta melakukan diskusi dengan mahasiswa FTIK UIN Salatiga. Diskusi dibagi dua kelompok, mahasiswa prodi BK FKIP UIA dengan prdi BKPI UIN Salatiga dan BI FKIP UIA Jakarta dengan TBI FTIK UIN Salatiga. Diskusi berjalan hangat, masing-masing mahasiswa menceritakan pengalaman kampus masing-masing dan mendebatkanhal-hal actual di dunia pendidikan. *